SCIENCE OF PENCAK CIMANDE

SCIENCE OF PENCAK CIMANDE

The science of Pencak Cimande is a cultural work that was born from the perspective of the life of a group of people who live on the west side of Mount Pangrango, in Cimande Tarikolot village to be precise, Cimande Village, Caringin District, Bogor Regency, in the form of a traditional science of martial arts system which has techniques, tactics, strategies, and philosophies as well as norms of life which comes from Islamic teachings, so it is understandable if the Cimande people view the science of Pencak Cimande as a way of life.

The ancestors of Cimande village have left a very valuable legacy of local wisdom, not only for their descendants but also for the entire nation of Indonesia. As time goes by, many people come to Cimande village to learn and study the science of Pencak Cimande, after they return to their respective regions many of them establish Pencak Silat institution, and include the term Cimande as a complementary name of the Pencak Silat institution they have established. Thus, if there is a martial arts school which states its association with Cimande, it means that the martial arts school is oriented towards the martial arts system called Pencak Cimande.
Based on the research, it was found that the science of Pencak Cimande has 33 moves of empty hand techniques for attack-defense. This technique has the same martial arts principles as short-blade self-defense such as kujang, cleaver, keris, sekin, knives, machetes, baton, or other types of weapons no more than the length of an elbow. Unlike the case with long blade weapon techniques which are equipped with a step pattern as part of fighting tactics and Cimande summarizes them in the 17 art of moves.

It is interesting to note that none of the moves are labeled with the name of an animal or imitate and portraying the movements of an animal. This also straightens out the assumption that Cimande moves originate from animal movements, which is very contrary to the general belief of the Cimande village community in which Cimande martial arts styles are based on everyday human natural movements. This is based on the idea that the level of the human mind is far superior to that of animals so that humans do not need to learn from animals of lower intelligence.

Source: Yudha Winata

ILMU PENCAK CIMANDE

Ilmu Pencak Cimande merupakan sebuah karya budaya yang lahir dari pandangan hidup suatu kelompok masyarakat yang berdomisili disisi barat Gunung Pangrango, tepatnya di Kampung Cimande Tarikolot, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, dalam wujud sebuah sistem ilmu seni bela diri tradisional yang memiliki teknik, taktik, strategi dan filosofi beladiri, serta norma-norma kehidupan yang bersumber dari ajaran agama Islam, sehingga dapat dimengerti bila masyarakat Cimande memandang ilmu Pencak Cimande sebagai jalan hidup.

Para leluhur pendiri Desa Cimande telah meninggalkan sebuah warisan kearifan lokal yang sangat berharga, tidak saja bagi keturunannya melainkan juga bagi seluruh bangsa Indonesia. Seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang yang datang ke Desa Cimande untuk berguru dan mempelajari ilmu tersebut, setelah mereka kembali ke daerahnya masing-masing tidak sedikit yang kemudian mendirikan perguruan Pencak Silat, bahkan mencantumkan istilah Cimande sebagai nama pelengkap dari perguruannya. Dengan demikian dapat dipahami bila ada sebuah perguruan Pencak Silat yang menyatakan perkumpulannya beraliran Cimande, itu berarti bahwa perguruan beladiri tersebut berkiblat kepada sistem seni bela diri yang dinamakan ilmu Pencak Cimande.

Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa ilmu Pencak Cimande memiliki 33 jurus teknik serang-bela tangan kosong. Teknik ini memiliki kaidah beladiri yang sama dengan beladiri senjata bilah pendek sejenis wedung, keris, sekin, pisau, lading, golok, pentungan atau senjata jenis lain yang memiliki panjang tidak lebih dari serentang siku. Berbeda halnya dengan teknik senjata bilah panjang yang dilengkapi dengan pola langkah sebagai bagian dari taktik pertarungan dan Cimande merangkumnya dalam 17 jurus jalan pedang.

Menarik untuk diketahui bahwa tidak satupun dari jurus-jurus tersebut berlabelkan nama binatang ataupun meniru-niru gerakan binatang. Hal ini sekaligus meluruskan adanya asumsi bahwa jurus-jurus Cimande berasal dari gerakan-gerakan binatang, dimana sangat bertentangan dengan keyakinan umum masyarakat Cimande bahwa jurus-jurus beladiri Cimande berpatokan pada gerak fitrah pekerjaan manusia sehari-hari. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa derajat akal manusia jauh lebih mulia dari binatang, sehingga manusia tidak perlu berguru kepada binatang yang derajat akalnya lebih rendah.

Sumber: Yudha Winata

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *