MAJAPAHIT LEGACY: KRIS KEBO LAJER KUKU BIMO

MAJAPAHIT LEGACY: KRIS KEBO LAJER KUKU BIMO

The Majapahit was a Javanese Hindu-thalassocracy empire in Southeast Asia, based on the island of Java (part of modern-day Indonesia), which existed from 1293 to circa 1527. Majapahit reached its peak of glory during the era of Hayam Wuruk, whose reign from 1350 to 1389 was marked by conquest which extended through Southeast Asia. According to the Nagarakretagama (Desawarñana) written in 1365, Majapahit was an empire of 98 tributaries, stretching from Sumatra to New Guinea; consisting of present-day Indonesia, Singapore, Malaysia, Brunei, southern Thailand, East Timor, southwestern Philippines (in particular the Sulu Archipelago), although the scope of Majapahit sphere of influence is still the subject of debate among historian.

Based on the scene in the bas relief of Sukuh Temple in Central Java, the Majapahit empire was also known as the birthplace of Kris recognized today since 1361 AD. The Kris or Keris in Indonesian languages is an Indonesian asymmetrical dagger with distinctive blade-patterning achieved through alternating laminations of iron and nickelous iron (pamor). The Kris is famous for its distinctive wavy blade, although many have straight blades as well. Kris is also a symbol of power and of ethnic pride.

Having said that, it’s a pleasure to exhibit an original Majapahit’s legacy as one of our precious possession the ‘Keris Kebo Lajer Kuku Bimo’. Considered as ‘Keris Sepuh’ or simply means older Kris which dates back to the 13th century and believed own by Mahesa Taruna son of Mahesa Anabrang one of the trusted admiral of the pre-Majapahit empire who leads the Pamalayu expedition.

The Kris is considered rare with one curve (luk) and claws shape called ‘Kuku Bimo’ which derives from the mighty fingernails of Bima, second among the Pandawa from the epic tale of Mahabharata. It has a distinct alternating lamination of iron (pamor) called ‘Tambal’ which is understood by many people to have a special purpose to patch and improve existing deficiencies or to fix something that is broken. Pamor Tambal can also imply an effort to create something better than before.

SourcesWikipedia & many sources

WARISAN MAJAPAHIT: KERIS KEBO LAJER KUKU BIMO

Majapahit adalah kerajaan Hindu-thalassocracy Jawa di Asia Tenggara, berbasis di pulau Jawa (bagian dari Indonesia modern), yang ada dari 1293 hingga sekitar 1527. Majapahit mencapai puncak kejayaannya selama era Hayam Wuruk, yang mana pemerintahan dari 1350 hingga 1389 ditandai dengan penaklukan yang meluas ke seluruh Asia Tenggara. Menurut Nagarakretagama (Desawarñana) yang ditulis pada tahun 1365, Majapahit adalah sebuah kerajaan yang terdiri dari 98 anak sungai, yang membentang dari Sumatera hingga Nugini; terdiri dari Indonesia saat ini, Singapura, Malaysia, Brunei, Thailand bagian selatan, Timor Timur, Filipina bagian barat daya (khususnya Kepulauan Sulu), meskipun cakupan pengaruh Majapahit masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan.

Berdasarkan pemandangan pada relief Candi Sukuh di Jawa Tengah, kerajaan Majapahit juga dikenal sebagai tempat kelahiran keris yang diakui hingga saat ini sejak tahun 1361 M. Keris atau keris dalam bahasa Indonesia adalah keris asimetris Indonesia dengan pola bilah khas yang dicapai melalui laminasi besi dan besi nikel (pamor) secara bergantian. Keris terkenal dengan bilahnya yang khas bergelombang, meski banyak juga yang memiliki bilah lurus. Keris juga merupakan simbol kekuasaan dan kebanggaan etnis.

Karena itu, dengan senang hati kami memamerkan peninggalan asli Majapahit sebagai salah satu barang berharga kami yaitu ‘Keris Kebo Lajer Kuku Bimo’. Dianggap sebagai ‘Keris Sepuh’ atau berarti keris yang lebih tua yang berasal dari abad ke-13 dan diyakini dimiliki oleh Mahesa Taruna putra Mahesa Anabrang salah satu laksamana terpercaya kerajaan pra-Majapahit yang memimpin ekspedisi Pamalayu.

Keris ini tergolong langka dengan bentuk satu lekukan (luk) dan cakar yang disebut ‘Kuku Bimo’ yang berasal dari kuku tangan Bima yang perkasa, nomor dua di antara Pandawa dari kisah epik Mahabharata. Ia memiliki laminasi bolak-balik berbeda dari besi (pamor) yang disebut ‘Tambal’ yang dipahami banyak orang memiliki tujuan khusus untuk menambal dan memperbaiki kekurangan yang ada atau memperbaiki sesuatu yang rusak. Pamor Tambal juga bisa diartikan sebagai upaya untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

SumberWikipedia & berbagai sumber

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *