ADAB: AN ESSENTIAL ETHICS OF LEARNING PENCAK

ADAB: AN ESSENTIAL ETHICS OF LEARNING PENCAK

In the world of ancient traditional martial arts especially Pencak, ‘Adab’ simply translated as ethics or manners are essential to obtain the perfection of its martial arts knowledge. Each potential student must possess these basic requirements.

Before learning Pencak, one must also strengthen his/her determination and intention, select the right knowledge base on needs, choosing the right ‘Guru’ as the perfect source of knowledge, and finding the right friends in learning the ancient traditional martial arts.

The perfection of its ancient traditional martial arts knowledge can only be achieved on how students value their ‘Guru’ and the knowledge itself. Some values such as: not speaking with a higher tone, ‘Ngugemi’ or translated as paying close attention to mandate, don’t show previous knowledge without being asked, and not greedy with the knowledge given.

The best teacher must have a better understanding of the needs and conditions of their students. “Guru, Digugu Lan Ditiru” is a Javanese proverb which means: a teacher is a role model. Therefore choosing the right ‘Guru’ is very important to learn its martial arts knowledge. Finally, looking for a suitable friend because true friends remind and strengthen each other.

In Pencak, the ancient martial arts knowledge does not only defend the body (jasad) but also knowledge about maintaining the spirit (ruh) or the divine (surgawi). And in the process, what is learned is adapted to life’s natural self-defense in human needs.

Ideally, studying ancient martial arts knowledge should start at a very young age. Between 16 – 35 years old, the threat to the body (jasad) is bigger. Those are the age whereby emotions are unstable, so the potential for physical friction is higher. However, with age, a person will be more stable in controlling their emotions. So the possibilities of a fight will be less, and vice versa with age.

Therefore, the older you are, the defense of the spirit (ruh) will be studied further, as the threat to the body (jasad) decreases. On the contrary, in this stage, a student must be ready to become a teacher for the continuity of this ancient martial arts knowledge and become role models for his students afterward. Thus, one must be prepared to defend his/her spirit (ruh) later before his Lord after death.

By Khoirul Anam

ADAB: ETIKA PENTING BELAJAR PENCAK

Dalam dunia seni bela diri tradisional kuno khususnya Pencak, ‘Adab’ yang secara sederhana diterjemahkan sebagai etika atau budi pekerti sangat penting untuk memperoleh kesempurnaan ilmu seni bela diri tersebut. Setiap calon siswa harus memiliki persyaratan dasar ini.

Sebelum belajar Pencak, seseorang juga harus memperkuat tekad dan niatnya, memilih pengetahuan yang tepat berdasarkan kebutuhan, memilih ‘Guru’ yang tepat sebagai sumber pengetahuan yang sempurna, dan menemukan teman yang tepat dalam mempelajari seni bela diri tradisional kuno tersebut.

Kesempurnaan pengetahuan seni bela diri tradisional kuno hanya dapat dicapai dengan cara siswa menghargai ‘Guru’ mereka dan pengetahuan itu sendiri. Beberapa nilai antara lain: tidak berbicara dengan nada tinggi, ‘Ngugemi’ atau diterjemahkan dengan memperhatikan amanah, tidak menunjukkan ilmu sebelumnya tanpa diminta, dan tidak rakus dengan ilmu yang diberikan.

Guru terbaik harus memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan dan kondisi siswanya. “Guru, Digugu Lan Ditiru” adalah pepatah Jawa yang artinya: guru adalah panutan. Oleh karena itu memilih ‘Guru’ yang tepat sangat penting untuk mempelajari ilmu seni bela diri tersebut. Akhirnya mencari teman yang cocok, karena teman sejati saling mengingatkan dan menguatkan.

Dalam Pencak, ilmu seni bela diri tradisional kuno tidak hanya mempertahankan jasad tetapi juga ilmu tentang memelihara ruh atau surgawi. Dan dalam prosesnya, apa yang dipelajari disesuaikan dengan pertahanan alami kehidupan dalam kebutuhan manusia itu sendiri.
Idealnya, mempelajari ilmu bela diri kuno harus dimulai pada usia yang sangat muda. Antara usia 16 – 35 tahun, ancaman terhadap jasad semakin besar. Itulah usia di mana emosi tidak stabil, sehingga potensi gesekan fisik lebih tinggi. Namun seiring bertambahnya usia, seseorang akan semakin mantap dalam mengendalikan emosinya. Sehingga kemungkinan terjadinya perkelahian akan semakin sedikit, begitu pula sebaliknya seiring bertambahnya usia.

Oleh karena itu, semakin tua usia Anda, pertahanan ruh akan dipelajari lebih lanjut, karena ancaman terhadap jasad semakin berkurang. Sebaliknya pada tahap ini seorang siswa harus siap menjadi guru demi kelangsungan ilmu seni bela diri tradisional kuno ini dan menjadi panutan bagi siswanya kelak. Karena itu, seseorang harus siap untuk mempertahankan ruh- nya nanti di hadapan Tuhannya setelah kematian.

Oleh Khoirul Anam

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *